Kumpulan Berbagai Berita

Piala Dunia 2022; Pekerja Stadion Di Qatar ‘Dieksploitasi’

Sudah menjadi rutinitas, setiap 4 tahun sekali, Piala Dunia digelar. Bagi negara yang menjadi tuan rumah, tentu mereka akan sangat sibut sekali mempersiapkan segalanya. Untuk Piala Dunia tahun 2018, yang menjadi tuan rumah adalah Rusia. Sedangkan untuk tahun 2022 adalah Qatar.Saat ini, Qatar sendiri tengah mempersiapkan dengan berbagai pembangunan togel singapura termasuk stadion baru.Nah, ada isu menarik jika ternyata para pekerja di Qatar telah dieksploitasi.Hal ini langsung menjadi sorotan berbagai media.

Lingkaran Setan Hutang dan Eksploitasi

Menurut sebuah laporan oleh Amnesty International, para pekerja migran asal Nepal yang terlibat dalam pekerjaan dan pembangunan stadion untuk Piala Dunia Qatar 2022 sedang terjebak dalam “lingkaran setan hutang dan eksploitasi”. Ini cukup mengerikan. Organisasi hak asasi manusia tersebut telah melakukan survei telepon terhadap 414 pekerja migran Nepal, 88 persen di antaranya melaporkan bahwa mereka telah membayar biaya ilegal yang berlebihan kepada agen untuk pekerjaan mereka di luar negeri.

Ibarat kata, para agen ini memanfaatkan para pekerja sebagai sumber penghasilan mereka.Diketahui jika mayoritas pekerja harus meminjam lebih dari setengah jumlah dari rentenir desa, inilah yang memaksa mereka ke dalam hutang yang diperparah dengan tidak dibayar dengan upah penuh mereka.Fakta ini memang sangat mengejutkan.Mereka bekerja untuk melunasi hutang, tetapi upah mereka juga tidak dibayar secara penuh.

Lebih dari separuh pekerja (53 persen) yang disurvei oleh Amnesty mengklaim bahwa mereka menerima gaji bulanan yang lebih rendah daripada jumlah yang dijanjikan kepada mereka oleh agen perekrutan.Sehingga masalah sebenarnya adalah antara para pekerja dan para agen mereka sendiri.Bukan tidak mungkin, jika ditelusur lebih lanjut bisa saja kasus ini melebar dan mencatut nama-nama tertentu.Tetapi, untuk saat ini baru diketahui antara pekerja dan agen.

Diperkejakan Tanpa Ampun

Menurut James Lynch, wakil direktur Program Isu Global Amnesty International, dia menjelaskan jika para pekerja migran asal Nepal tersebut dipekerjakan tanpa ampun atau istilah kasarnya diperas dengan cara yang sistematis. Ini bisa berakibat sangat buruk pada pekerja maupun citra Piala Dunia.Sepertinya, penegak hukum memang seharusnya menelusuri lebih jauh tentang masalah yang kini diperbincangkan oleh masyarakat dunia tersebut.

“(Para pekerja) dipaksa mengambil pinjaman untuk membayar biaya yang sangat besar, (untuk itu) agen perekrutan membebankan mereka untuk bekerja di luar negeri, mereka merasa berhutang budi sehingga mereka tidak punya pilihan selain tetap bekerja”.Mereka tetap bekerja dengan bayaran yang lebih rendah dan tentunya pekerjaan mereka juga bisa dibilang cukup berbahaya.

“Penegakan hukum pemerintah Nepal yang lemah sedang bermain langsung ke tangan pemeras dan rentenir,” tandas James Lynch. Mengetahui fakta seperti ini, tentu akan membuat siapa saja merasa iba sekaligus geram terhadap penegakkan hukum di Nepal. Para pemeras dan rentenir seolah memiliki kuasa penuh untuk melanjutkan aksinya.Sebenarnya, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Pekerja migran terlalu sering terjebak dalam situasi perusakan jiwa untuk bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun hanya untuk melunasi biaya besar dan seringnya ilegal yang harus mereka bayar untuk melakukan pekerjaan itu”. Menurut James Lynch, masalah ini sangat urgen dan seharusnya diselesaikan dengan segera. “Menangani industri eksploitatif ini adalah masalah urgent,” tandasnya.Memang, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.Para pekerja ini terjebak dengan hutang yang sangat besar dan harus bekerja di luar dengan biaya rendah untuk melunasi hutangnya.

Post a Comment

Your email is kept private. Required fields are marked *