Kumpulan Berbagai Berita

Melihat Perbedaan Sikap Amerika Tangani Nuklir Iran dan Korut

Momen di mana Amerika Serikat mundur dari perjanjian nuklir Iran pada awal bulan Mei lalu bisa dikatakan berdekatan dengan rencana Presiden Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un.

Amerika Serikat Berada di Dua Pilihan

Sebagian pihak dari Trump melihat bahwa Trump cenderung lebih melunak ketika menghadapi Korut dibandingkan Iran. Padahal kedua negara tersebut sama-sama menjadi tantang politik luar negeri Amerika Serikat selama ini, khususnya tentang pengembangan senjata nuklir. Meskipun Korut sampai saat ini juga belum menunjukkan niat untuk melucuti senjata nuklirnya, Trump masih bersikeras merealisasikan pertemuan dengan Kim yang dijadwalkan pada tanggal 12 Juni 2018 mendatang di Singapura. Presiden AS ke-45 tersebut menilai bahwa pertemuannya dengan Kim bisa menjadi awal diskusi dan dialog dengan Korea Utara.

Di sisi yang lainnya, Trump sejauh ini tidak pernah menunjukkan niat mau berdialog dengan Iran khususnya tentang denuklirisasi togel online apalagi AS sudah membatalkan perjanjian nuklir. Pengamat politik internasional dari Unpad (Universitas Padjajaran), Teuku Rezasyah, menilai bahwa isu nuklir Korut pasalnya lebih mudah ditangani oleh Amerika Serikat ketimbang nuklir Iran.

Karena, selain masalah soal nuklir, pengaruh Iran di Timur Tengah juga menjadi salah satu tantangan AS selama ini pada kawasan itu. “Menangani Korut untuk AS jauh lebih murah ketimbang menangani Iran. Sebab isu Korut masih jelas soal denuklirisasi, sedangkan Iran bisa merembet ke isu moral dan juga agama apabila AS tidak berhati-hati,” ungkap Teuku ketika dikutip dari CNN Indonesia, hari Kamis (7/6).

Selain itu juga, Teuku menganggap bahwasanya isu nuklir Korea Utara lebih krusial apabila dibandingkan dengan nuklir Iran. Hal ini dikarenakan Iran sebenarnya Cuma mempunyai teknologi rudal namun belum memiliki sistem persenjataan nuklir. Sedangkan Korut mempunyai senjata nuklir dan juga sistem persenjataan.

Isu nuklir Korea Utara ini, paparnya, juga telah lama mengancam dan juga mempengaruhi sekutu-sekutu Amerika Serikat yang ada di Asia Timur seperti misalnya Taiwan, Korea Selatan hingga Jepang.

Walaupun krusial, Teuku menganggap bahwa isu nuklir Korut pasalnya lebih mudah ditangani karena AS mendapatkan dukungan yang penuh dari 3 sekutunya tersebut bahkan dunia internasional tentang denuklirisasi di Semenanjung Korea. “Sementara Iran, sekutu AS yang ada di Timur Tengah memang ada misalnya seperti Saudi dan Israel. Namun begitu masuk ke isu agama, Islam vs Yahudi, maka sekutu-sekutu AS itu belum tentu menjadi solid,” imbuh dosen jurusan hubungan internasional tersebut.

Merusak Kredibilitas AS

Di sisi yang lainnya, analis senior New America Foundation, Suzzane DiMaggio, menganggap perbedaan sikap Trump yang nampak lebih keras pada Iran ini malahan bisa menjadi boomerang tersendiri bagi AS ketika menghadapi Korut.

Sebab, menurutnya, keputusan dari Trump menarik diri dari perjanjian dengan Iran ini bisa merusak kredibilitas AS yang mana sudah tak dipercaya oleh sejumlah negara, termasuk juga Korut. “Sudah jelas ya bahwa keputusan Trump yang mana tak mengikuti komitmen AS sejak awal dalam perjanjian Iran ini mempunyai dampak yang negative pada rencana kesepakatan dengan Korut,” ucap DiMaggo seperti dilansir dari CNN Indonesia.

“Dengan keluarnya dari kesepakatan Iran, maka Trump Cuma mengirim pesan buruk pada Kim Jong Un bahwa jika anda sudah melaksanakan semua komitmen dalam perjanjian tersebut anda tetap tak bisa bergantung dan percaya pada Amerika Serikat,” tukas analis senior tersebut.

Post a Comment

Your email is kept private. Required fields are marked *